KISAH KAKI, TANGAN, DAN MULUT

Saat melangkah, kedua kaki ini yang beranjak
Saat mengerjakan sesuatu, kedua tangan ini yang bergerak
Saat menyampaikan pesan, mulut ini yang berucap

Ketika kaki tak lagi mampu melangkah
Anggota tubuh yang lain mencoba menopang semampu dia
Meski tak sempurna, dia terus berusaha menopang dengan baik
Terkadang harus terjatuh, karena tubuh tak lagi seimbang seperti dulu

Kedua kaki ibarat tiang penyangga suatu bangunan
Dia akan kokoh dan kuat manakala bebannya sepadan
Jari-jarinya akan mencengkeram dengan kuat di mana dia berpijak

Sepasang kaki akan menurut pada tuannya
Kakipun bebas melangkah kemana tuannya bergerak
Bila tuannya berniat baik, ia menempuh jalan kebaikan
Setiap langkahnya pasti terasa ringan
Bila tuannya berniat buruk, ia menuju kemaksiatan,
Setiap langkahnya terasa berat dan penuh sandungan

Kedua tangan
Allah menciptakan kedua tangan dengan beragam
Ada yang sempurna dengan sepuluh jemarinya
Ada yang kurang sempurna dengan hanya beberapa jari saja
Atau bahkan tanpa jari sekalipun
Semua tiada yang sia-sia

Semua akan bisa berkarya
Seberapa indah karya yang dicipta
Sebanding dengan seberapa deras keringat yang telah dicucurkan,
Seberapa kuat asa yang telah dibangun
Seberapa dahsyat doa yang dipanjatkan

Mulut...
Nampak manis dan indah saat senyum
Terdengar merdu saat melantunkan nada-nada syahdu
Terasa menyejukkan kalbu saat melantunkan ayat-ayat Al Quran
Atau terasa menyentuh saat memberikan nasehat kebaikan

Tapi...
Tak jarang mulut berucap kata-kata tanpa makna
Kedua bibirnya mengulum senyum sinis atau bahkan tanpa senyum dan terlihat manyun
Terlalu ringan ia mencaci, dan seringkali menyakitkan hati
Hingga tak terdengar lagi ia bernyanyi dengan sepenuh hati

Sepasang kaki adalah anugerah Illahi
Kelak ia menjadi saksi, kemana tuannya melangkah pergi
Sepasang tangan, yang tak pernah diam
Kelak ia memberikan kesaksian
Tentang karya yang telah ia kerjakan
Sebuah mulut melengkapi keindahan wajah, tak hanya untuk makan dan minum
Tapi sebagai perangkat vital yang mewakili lisan
Kelak dimintai pertanggungjawaban
Tentang hal yang telah ia ucapkan

Apakah ini tak cukup untuk kita lebih berhati-hati dan mawas diri
Dalam melangkah, bertindak dan berucap?
Mungkin tidak hari ini kita menyadari
Tapi kelak saat kita mati, menangis tiada henti

*Penulis : Alviyatun

Sekelumit kisah ini 
Semoga menginspirasi
Buat diri ini yang kelak pasti mati
Semoga Allah membimbing kaki,tangan dan mulut ini, demi mencapai kebahagiaan yang hakiki
Aamiin







Komentar

MENIKUNGKAN DARMA BAKTI

MERENDA HARI (Meluapkan kegundahan)

MELAS