Dera Bumi Ibu Pertiwi
Mendera bumi Ibu Pertiwi
Bunyi tabung berdentuman dan saling bergesekan
Kau dengarkah itu, Kawan?
"Iya, aku mendengar
Bukankah itu dentuman yang kau pesan semalam?"
Benar, pesananku telah datang
Entah berapa kali aku menghubungi penjual
Nyatanya, di mana-mana bilang kehabisan.
Aku telah berkirim kabar kepada Ibu Pertiwi
Oksigen persediaan telah habis hari ini
Aku tak bisa menjamin, nafas-nafas yang terengah itu, apakah mau menunggu?
Ibu Pertiwi menghamparkan wajah ke langit merah
Pandangannya menyapa sudut mega tanpa arah
Mencari jawab dan mencuri solusi mengakhiri perih parah
Ibu Pertiwi merenung, negri siap bangkit
Mengobarkan semangat sekian jiwa sembuh dari penyakit
Bertahan, dengan secukup-cukupnya perangkat di rumah sakit
Ibu pertiwi mengangguk, siapkan badan
Bertahan, bersabar menunggu saat aman
Meluaskan nafas dan doa dalam naungan iman
Menghias rumah tanpa hajatan mewah
Menjalin shilah dan rahman di kemayaan
Kerahkan bala bantuan dermawan
Ibu Pertiwi kan tersenyum senang
Kerahkan segenap pengertian
Relawan sejatinya sadar pentingnya kemanusiaan
Saling menjaga keluarga sanak saudara
Senantiasa menjunjung ketentuan bersama
Sadar, sadarlah wahai Saudara!
Dera bumi Ibu Pertiwi kan enyap nanti
Bantul, 4 Juli 2021
"Alvi: mengenang oksigen yang semakin sulit didapat di masa pandemi Juli 2021"
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar, kritik dan sarannya. Semoga memperluas wawasan dan pengetahuan saya, sehingga puisi-puisi saya semakin berkualitas, dan menginspirasi siapapun yang membacanya