Lelaki Tua
| Ilustrasi: gambarkuterbaru.blogspot.com |
Lelaki Tua
~Alviyatun~
Kemarin aku melihat seorang lelaki tua,
memungut sisa makanan dari tong sampah depan restoran ternama
Wajahnya kelu dan pilu,
memandangi rupa dan mencium aroma makanan sisa
Perlahan, menahan rasa, ia suapkan sejumput sisa yang tersisa ke dalam mulut keringnya
Lima hari bukan waktu yang lama, untuk bertahan tanpa menahan lapar
Sorot matanya mengatakan demikian, "Aku sudah terbiasa."
Usus halusku takkan lengket, karena air liur terus mengalir
memperjuangkan lambung yang mulai lemah bergerak
Saat melewati air sungai jernih, ku sempatkan meneguknya walau di ujung sungai seekor sapi sedang dimandikan
Traffic light bukanlah tempat ternyaman untuk singgah
Bukan tempat terindah untuk menengadah
Tetapi, tempat itu adalah kenangan menyambung hidup
Demi menyumbat kelaparan
Sekali lagi, itu bukan tempat teraman
Malam berujung pekat, meraup semua mimpi keramat
Yang tak pernah mau sepakat
Lelaki tua meringis, menunggu dan mengacak-acak malam yang telah berlaku jahat
Membiarkan ia tergerus geliat sekat, kemalangan dan nasib yang tak bersahabat
Dunia yang kelak akan terkubur bersama hancurnya gunung-gunung
Runtuhnya langit, meluapnya air laut,
dan bertebarannya manusia tanpa tahu arah, riuh berlarian dan saling melupakan
Lelaki tua, mengakhiri malam tanpa salam, tanpa pesan
Urusan dunianya telah ditamatkan di jalanan
Kepada sang Sutradara ia pasrahkan
tubuh, jiwa, hati, luka, nestapa dan bahagianya
Di alam keabadian
Bantul, 6 Oktober 2021
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar, kritik dan sarannya. Semoga memperluas wawasan dan pengetahuan saya, sehingga puisi-puisi saya semakin berkualitas, dan menginspirasi siapapun yang membacanya